Ad Code

Siswa SMA Al-Fattah Asah Kemampuan Jurnalistik Melalui Pelatihan Literasi

SIDOARJO -  Kegiatan Literasi bertema Santri Berkarya, Pesantren Mendunia yang sedang berlangsung menjadi bahan latihan menulis bagi 85 santri kelas X dan XII SMA Pondok Pesantren Al-Fattah, Buduran, Sidoarjo, Senin (5/10/2026). Mereka mendapat waktu lima menit untuk menyusun satu kalimat berita tentang acara yang mereka ikuti.

Tugas itu diberikan Redaktur Pelaksana Tagar.co Muhammad Nurfatoni, setelah mengenalkan unsur-unsur dasar berita. Ada empat informasi yang harus masuk dalam tulisan peserta: apa kegiatannya, kapan berlangsung, di mana tempatnya, dan siapa yang terlibat.

Baca juga Kepala SMA Al-Fattah Ajak Siswa Berani Menulis untuk Membawa Perubahan

“Waktunya lima menit dari sekarang,” kata Fatoni. Ia meminta santri segera mencoba merangkai informasi yang sudah mereka ketahui dari kegiatan tersebut.


“Belajar yang terbaik adalah dengan cara mengerjakan, bukan sekadar membaca teori atau mendengar teori,” ujarnya. Penjelasan tentang unsur berita pun langsung diikuti praktik menulis.

Direktur Kanzun Books itu mengingatkan agar empat informasi itu disusun menjadi satu kalimat yang mengalir. Peserta bebas memilih bagian yang akan ditempatkan di awal, asalkan informasi saling terhubung dan enak dibaca. Bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi bagian dari penilaian latihan tersebut.

Sebuah buku disiapkan sebagai hadiah untuk tulisan terbaik. Fatoni meminta bantuan para ustazaz memilih tiga tulisan yang akan ia nilai untuk menentukan satu yang terbaik.

Ketika santri mengerjakan tugas, Fatoni beberapa kali menyebut waktu yang tersisa. Menjelang akhir, ia menghitung mundur dan meminta mereka berhenti menulis saat hitungan mencapai satu.

“Satu, tangan diangkat,” serunya. Peserta diminta mengangkat tangan sebagai tanda berhenti menulis, lalu hasil pekerjaan mereka dikumpulkan dengan bantuan para ustaz.

Santri SMA Pondok Pesantren Al-Fattah, Buduran, Sidoarjo, mengerjakan tugas menulis dalam Kegiatan Literasi, Senin (5/10/2026). Mereka menulis di atas kertas karena tidak diperkenankan membawa ponsel di pondok. (Tagar.co/Wildan Dhiya’el Jinan)

Berita Pamflet tentang Kegiatan yang Diikuti

Setelah tulisan dikumpulkan, Fatoni menjelaskan kedudukan tugas pertama itu. Ia menyebutnya “berita pamflet” atau caption, yakni informasi singkat yang memberi tahu pembaca bahwa ada sebuah acara, kapan dan di mana berlangsung, serta siapa yang terlibat. Dalam latihan tersebut, acaranya adalah kegiatan literasi yang sedang diikuti para santri.

Empat unsur itu menjadi bekal awal. Untuk mengembangkannya menjadi berita lengkap, peserta perlu menggali mengapa kegiatan diadakan dan bagaimana pelaksanaannya. Dengan tambahan tersebut, tulisan mencakup 5W1H: apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana.

Alumnus Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP Surabaya, kini Unesa, itu, lalu menunjukkan bahan yang dapat dikembangkan dari acara itu. Keterangan kepala sekolah, penjelasan pemateri, maupun pengalaman peserta bisa diolah menjadi berita. Penulis perlu mencatat apa yang disampaikan, memilih bagian yang penting, lalu menyusunnya dalam kalimat tidak langsung dan kutipan langsung.

Rekaman audio juga dapat membantu proses tersebut. Penjelasan narasumber bisa ditranskripsikan, kemudian diolah menjadi tulisan agar isi pembicaraan tersampaikan kepada pembaca. Foto dan video dapat melengkapi laporan tentang peristiwa yang sama.

Saat membahas tujuan kegiatan, Fatoni mengingatkan pentingnya menyebut sumber keterangan. Kalimat yang menjelaskan bahwa sebuah acara bertujuan meningkatkan kemampuan tertentu harus didasarkan pada penjelasan narasumber. Tujuan itu perlu dikonfirmasikan, sekalipun penulis merasa sudah mengetahuinya.

Santriwati SMA Pondok Pesantren Al-Fattah, Buduran, Sidoarjo, mengerjakan tugas menulis dalam Kegiatan Literasi, Senin (5/10/2026). Mereka menulis di atas kertas karena tidak diperkenankan membawa ponsel di pondok. (Tagar.co/Wildan Dhiya’el Jinan)

Nama Narasumber dan Sudut Pandang

Ketelitian menulis juga menyangkut identitas orang yang disebut dalam berita. Dalam penjelasannya, Fatoni menggunakan nama seorang ustaz sebagai contoh. Nama yang terlalu singkat perlu diperjelas agar pembaca mengetahui siapa yang dimaksud.

Ia meminta santri memperhatikan nama lengkap, jabatan, dan identitas lain yang relevan. Pada contoh kepala sekolah, keterangan mengenai sekolah tempatnya bertugas membantu memperjelas identitas narasumber. Penulis perlu memastikan nama dan jabatan tersebut benar.

Dari situ, ayah lima anak, mertua empat menantu, dan kakek dua cucu, ini mengajak peserta melihat kemungkinan menghasilkan beberapa berita dari satu kegiatan. Keterangan kepala sekolah dapat menjadi satu tulisan, pengalaman peserta menjadi tulisan lain, sementara materi pemateri dikembangkan dengan fokus tersendiri.

Fatoni juga menjelaskan batas antara berita dan opini. Berita melaporkan kejadian berdasarkan fakta yang diperiksa, sedangkan opini memberi ruang bagi penulis untuk mengemukakan pandangannya. Dalam berita, pendapat perlu ditempatkan sebagai keterangan narasumber yang jelas sumbernya.

Bahasa yang Sering Dipakai Ikut Diperiksa

Setelah membahas penulisan, Fatoni menguji pengetahuan santri tentang bahasa Indonesia. Ia membacakan sejumlah kata dan kalimat untuk ditulis peserta, serta memberikan pilihan bentuk kata. Jawaban kemudian dibahas bersama dengan merujuk kaidah bahasa dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Musala, karisma, sirene, dan ambulans menjadi beberapa kata yang dibahas. Peserta juga diminta memilih antara mengubah dan merubah, serta pencinta dan pecinta. Latihan tersebut mengajak mereka memeriksa kembali bentuk kata yang kerap dijumpai sehari-hari.

“Jangan ikut kebanyakan,” pesan Fatoni. Ia mengingatkan bahwa penggunaan yang lazim tetap perlu diperiksa dengan rujukan. Penulis harus memahami alasan sebuah bentuk kata dinyatakan benar.

Perhatian terhadap bahasa itu juga berlaku saat membuat judul. Fatoni mengingatkan penggunaan huruf kecil pada kata tugas, seperti sebagai dan pada, apabila berada di tengah judul. Ia meminta peserta menerapkan pelajaran bahasa Indonesia yang telah diperoleh di kelas dalam tulisan mereka.

Pada akhir pengarahan, santri mendapat tugas berikutnya, yakni menulis opini sekitar 700 kata. Fatoni meminta mereka memilih persoalan yang aktual dan menarik, mengembangkan pandangan, serta menawarkan solusi yang masuk akal. Data dan teori sebagai pisau analisis dibahas sebagai bahan untuk memperkuat gagasan.

Untuk latihan opini tersebut, ia menjelaskan bahwa sistematika, logika, bahasa, dan solusi akan menjadi perhatian dalam penilaian. Peserta juga diminta memikirkan data serta rujukan yang dibutuhkan untuk mendukung masalah yang mereka angkat. Tulisan itu diminta dikumpulkan sebelum istirahat. (#)


Diambil atas ijin penulis aslinya dari : https://tagar.co/tanpa-ponsel-santri-al-fattah-ditantang-menulis-berita-pamlet-dalam-lima-menit/


Posting Komentar

0 Komentar