Ad Code

Dukung SDGs, Siswa SMA Progresif Bumi Shalawat Berdayakan Potensi UMKM Kupang



SMA Progresif Bumi Shalawat – Siswa SMA Progresif Bumi Shalawat yang tergabung dalam tim KUPAYA terlibat langsung dalam pengembangan UMKM Kupang Jaya, Desa Balongdowo, Sidoarjo. Kegiatan ini merupakan bagian dari program sekolah yang mewujudkan tujuan SDGs (Sustainable Development Goals) pada (8/10/26). 

Mereka melakukan beberapa kegiatan yaitu rebranding, repacking produk, pembuatan konten promosi, dan pencatatan keuangan secara digital. Para siswa melibatkan diri langsung sambil belajar bagaimana Kupang diolah sampai siap dijual ke konsumen.

Nisa, pemilik UMKM Kupang Jaya mengatakan, usahanya dimulai sejak 2015. Melihat Kupang adalah kesehariannya karena ia berasal dari keluarga Nelayan. Berkat pengalamannya, ia sudah mengenal Kupang sejak kecil. Belajar mengolah juga sedari kecil. 

Setelah menginjak usia cukup banyak, Nisa memilih untuk mengembangkannya. Ia memilih usaha Kupang karena ingin mempertahankan dan melestarikan makanan tradisional Desa Balongdowo. 

“Saya dulu cuma lihat-lihat saja, tapi karena sering membantu orang tua, akhirnya tahu kalau itu Kupang,” jelasnya.

Sebelum fokus usaha Kupang, Nisa sempat menjalankan berbagai usaha lain seperti menjual kue, gorengan, snack box, dan nasi kotak. Namun, usaha olahan kupanglah menjadi usaha yang terus bertahan hingga saat ini.

Perjalanan usaha tersebut tidak terlepas dari berbagai tantangan. Dampak Lumpur Lapindo pada tahun 2006 menyebabkan kupang lokal di wilayah Sidoarjo semakin sulit ditemukan sehingga bahan baku harus didatangkan dari daerah lain, salah satunya dari Madura. 

Menurut Nisa, kondisi tersebut mengakibatkan biaya pengambilan bahan baku menjadi lebih besar. Selain itu, kondisi laut yang tidak dapat diprediksi membuat ukuran kupang yang diperoleh tidak selalu dapat ditentukan. Meski demikian, produksi tetap berjalan dengan mengolah kupang menjadi berbagai produk, seperti kerupuk kupang, kupang krispi, dan petis kupang. 

Selama tiga hari, siswa terlibat langsung dalam berbagai kegiatan di rumah produksi. Mereka membantu proses pengolahan kupang dan pulangnya, mereka lanjutkan mengajar TPQ di sore hari. 

Banyak hal yang bisa mereka lakukan di sana, di antaranya mengamati pembuatan sate kupang, proses pembersihan kupang, dan pembuatan petis kupang, kemudian membantu pengemasan kerupuk kupang di rumah produksi. 

Di hari-hari selanjutnya, mereka melakukan repacking dan rebranding produk. Pada sore harinya, siswa kembali lagi mengajar dan menemani anak-anak di TPQ. Rutinitas semacam itu mereka lakukan selama satu minggu. 

Keterlibatan tersebut menjadi pengalaman bagi siswa untuk memahami bagaimana UMKM berjalan. Mereka sadar, membangun UMKM tidak hanya sekadar punya produk, kemudian diperjualbelikan, tapi ada proses-proses lain, seperti pemilihan kemasan, promosi, pembukuan, manajemen karyawan, dan lain sebagainya. 

“Keberlanjutan UMKM Kupang Jaya bukan hanya tentang mempertahankan makanan tradisional, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar,” kata Nisa’.

Ia berharap usahanya bisa semakin berkembang, sehingga semakin banyak warga yang dapat bekerja dan merasakan manfaat ekonominya. Minimal dengan UMKM ini, di desa yang saya tempati, ada perputaran ekonomi yang bisa dirasakan langsung oleh banyak orang.

Saat ini, produk olahan kupang dipasarkan melalui pusat oleh-oleh dan juga dijual langsung dari rumah. Keberlangsungan UMKM Kupang Jaya menjadi salah satu upaya untuk mempertahankan potensi pangan lokal sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. 

Hal ini sejalan dengan SDGs nomor 8, Decent Work and Economic Growth, yang mendorong pertumbuhan usaha dan terciptanya kesempatan kerja yang layak bagi masyarakat. Pertumbuhan dimulai dari sektor paling kecil, yaitu di desa-desa. Ketika di sektor bawah bisa tumbuh, maka dampaknya bisa merembet ke atas dan menjadi pertumbuhan ekonomi yang baik. (Smasif)


Posting Komentar

0 Komentar